Thursday, October 13

KEMISKINAN YANG KITA TAKUTKAN

Dari Pengarang Buletin Da'wah Al Wala Wal Bara', Bandung





Kebanyakan manusia takut terjatuh ke dalam kemiskinan. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya. Mereka begitu sedih dan berdukacita ketika mengalami kekurangan harta. Bahkan sehingga ada di antara mereka yang sanggup menukar agamanya hanya untuk mendapatkan sedikit harta benda duniawi. Ada di antara mereka menemui dukun, tok-tok bomoh dan yang seumpamanya untuk meminta tangkal, jampi-jampi dan sejenisnya daripada mereka. Atau memelihara dan meminta bantuan makhluk halus (jin) dalam usaha untuk mendapat kekayaan. Dengan ini mereka telah menjual aqidah dan agamanya untuk kesenangan duniawi yang rendah dan sementara . Nas`alullaahas salaamah wal 'aafiyah.



Benarkah kemiskinan yang perlu kita takutkan? Benarkah kemiskinan yang dikhuatirkan oleh Rasulullah s.a.w. ke atas ummatnya?



عَنْ عَمْرو بْنِ عَوْفٍ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، فَقَدِمَ بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الأَنْصَارُ بِقُدُوْمِ أَبِي عُبَيْدَةَ، فَوَافَوْا صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ، اِنْصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوْا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ رَآهُمْ، ثُمَّ قَالَ: ((أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ)) فَقَالُوْا: أَجَل يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَالَ: ((أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ((



Dari 'Amr bin 'Auf Al-Anshari r.a, bahwasanya Rasulullah s.a.w mengutus Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah r.a. ke negeri Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya (kerana kebanyakan mereka adalah Majusi -pent). Kemudiannya dia kembali dari Bahrain dengan membawa harta. Orang-orang Anshar mendengar berita kepulanganan Abu 'Ubaidah lalu mereka bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat shubuh bersama Rasulullah s.a.w . Ketika Rasulullah s.a.w. selesai shalat beliau pun berpaling menghadap ke arah mereka. Jelas kepada Rasulullah mereka sangat inginkan harta yang dibawa Abu 'Ubaidah. Maka Rasulullah s.a.w pun tersenyum ketika melihat mereka



Kemudian beliau s.a.w bersabda, "Aku menjangka kalian telah mendengar bahwa Abu 'Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain." Maka mereka menjawab, "Benar, Rasulullah." Lalu beliau s.a.w. bersabda, "Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kalian. Akan tetapi aku khuatir akan dibentangkan dunia di hadapan kalian sebagaimana telah dibentangkan ke atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlumba-lumba padanya sebagaimana mereka berlumba-lumba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka." (HR. Al-Bukhariy no.3158 dan Muslim no.2961)



Kemudian beliau s.a.w bersabda, "Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kalian."



Ini bermakna bukan kemiskinan yang dibimbangi oleh Nabi s.a.w. terhadap kita. Bahkan sebaliknya kadang-kadang kemiskinan boleh menjadi kebaikan bagi seseorang ketika dia bersabar dan tetap taat kepada Allah dalam kemiskinannya tersebut.



Sabda Nabi. s.a.w. , "Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kalian." Yakni aku tidak bimbang kalian ditimpa kemiskinan kerana sesungguhnya orang yang miskin secara umumnya lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang kaya.



Perhatikanlah keadaan para rasul! Siapakah yang mendustakan mereka? Yang mendustakan mereka adalah para pembesar kaumnya, orang-orang yang paling jahat dan orang-orang kaya. Dan sebaliknya, kebanyakan yang mengikuti mereka adalah orang-orang miskin. Sehingga kebanyakan yang mengikuti Nabi s.a.w pun adalah orang-orang miskin.





Jangan Takut Dengan Kemiskinan!



Maka kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu dibimbangi. Jangan sampai kita takut menjadi miskin atau khuatir tidak ada apa untuk dimakan. Jangan sampai terlintas di dalam hati kita, "Apa yang ada untuk kita makan esok?" Jangan gusar! Yang penting kita berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal, berdo'a dan bertawakkal kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.



وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا



"Dan tidak ada suatu yang melata pun (yakni manusia dan haiwan) di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (Huud:6)



Bahkan sesuatu yang harus kita bimbangkan ialah ketika dibentangkan dunia kepada kita. Yakni ketika kita diuji dengan banyaknya harta benda. Sebagaimana sabda Nabi s.a.w, "Akan tetapi aku khuatir akan dibentangkan dunia di hadapan kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlumba-lumba padanya sebagaimana mereka berlumba-lumba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka."



Menghancurkan kalian bermaksud menghilangkan agama kalian, yakni, disebabkan dunia, kalian menjadi lalai dan meninggalkan ketaatan kepada Allah.





Bahayanya Dunia Bagi Seorang Muslim



Dunia sangat berbahaya bagi seorang muslim. Inilah kenyataannya. Lihatlah keadaan orang-orang di sekitar kita. Ketika mereka dalam kemiskinan, mereka lebih bertakwa kepada Allah dan lebih khusyu'. Rajin shalat berjama'ah di masjid, menghadiri majlis 'ilmu dan lain-lain. Namun, ketika banyak hartanya, mereka semakin lalai dan semakin berpaling dari jalan Allah. Dan muncullah sikap melampaui batas dari mereka.



Akhirnya, sekarang manusia menjadi orang-orang yang selalu merindukan keindahan dunia dan perhiasannya seperti kereta mewah, rumah besar tempat tidur empuk, pakaian berjenama dan lain-lain. Mereka saling berbangga antara satu sama lain. Dan mereka meninggalkan amalan-amalan yang akan memberikan manafaat kepada mereka di akhirat kelak.



Perhatikanlah, majalah-majalah, akhbar-akbar dan media lainnya kebanyakannya tidak membicarakan apa-apa kecuali tentang kemegahan dunia dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Dan mereka berpaling dari akhirat, sehingga rosaklah manusia kecuali orang-orang yang Allah selamatkan.



Kesimpulannya, bahwasanya ketika dunia dibukakan -kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kami dan anda dari kejelekannya- maka dunia itu akan membawa kejelekan dan akan menjadikan manusia melampaui batas.



كَلاَّ إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى



"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, kerana dia melihat dirinya serba cukup." (Al-'Alaq:6-7)



Dan sungguh Fir'aun telah berkata kepada kaumnya,



يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلاَ تُبْصِرُونَ



"Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kalian tidak melihat(nya)?" (Az-Zukhruf:51)



Fir'aun berbangga dengan dunia. Oleh karena itulah, maka dunia adalah sesuatu yang sangat berbahaya.



Hadis di atas mirip dengan hadis berikut:



عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، فَقَالَ: ((إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتِهَا((



Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. dia berkata, "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau. Lalu beliau s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kamu sepeninggalanku adalah ketika dibukakan atas kamu keindahan dunia dan perhiasannya." (HR. Al-Bukhari no.1465 dan Muslim no.1052)





Dunia Itu Manis Dan Hijau



Rasulullah s.a.w telah menjelaskan tentang keadaan dunia sekaligus memperingatkan ummatnya dari fitnahnya.



عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ((إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ((



Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. , bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah s.w.t. menjadikan kalian pemimpin padanya. Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kalian. Maka takutlah kalian dari fitnahnya dunia dan takutlah kalian dari fitnahnya wanita." (HR. Muslim no.2742)



Sabda beliau s.a.w, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau." Yakni manis rasanya dan hijau pemandangannya, memikat dan menggoda. Kerana sesuatu itu apabila keadaannya manis dan sedap dipandang mata, maka dia akan menggoda manusia. Demikian juga dunia, dia manis dan hijau sehingga akan menggoda manusia.



Akan tetapi beliau s.a.w. juga menyatakan, "Dan sesungguhnya Allah s.w.t. menjadikan kalian pemimpin padanya." Yakni Dia menjadikan kalian pemimpin-pemimpin padanya, sebagian kalian menggantikan sebagian yang lainnya dan sebagian kalian mewarisi sebagian yang lainnya.



"Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kalian." Apakah kalian mengutamakan dunia atau akhirat? Kerana inilah beliau s.a.w. memperingatkan, "Maka takutlah kalian dari fitnah dunia dan takutlah kalian dari fitnah wanita."





Harta Dan Kekayaan Yang Bermanfaat



Akan tetapi apabila Allah memberikan kekayaan kepada seseorang, lalu kekayaannya tersebut membantunya untuk taat kepada Allah, dia infakkan hartanya di jalan kebenaran dan di jalan Allah, maka jadilah dunia itu sebagai kebaikan.



Kita semua tidak mampu untuk lepas dari dunia secara keseluruhan. Kita perlukan tempat tinggal atau rumah, kenderaan, pakaian dan sebagainya. Benda-benda ini jika kita gunakan untuk membantu kea rah ketaatan kepada Allah niscaya kita mendapat pahala. Sebagai contohnya, jika kita gunakan kenderaan. untuk menghadiri majlis 'ilmu atau melakukan kegiatan yang bermanfaat. Malah kita pun boleh mengajak teman-teman ikut bersama kita kemajlis ilmu tersebut. Dengan menggunakan kenderaan sendiri juga kita boleh mengelak dari maksiat seperti ‘ikhtilath’ (campur baur antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram) dan lainnya.



Akan tetapi jangan sampai kenderaan ataupun harta benda duniawi menjadikan kita bangga dan sombong sehingga akhirnya merendahkan dan meremehkan orang lain. Jadikan harta tersebut sebagai alat yang membantu kita untuk taat kepada Allah yang dengannya menjadikan kita orang yang bersyukur.



Malah ada sebagian 'ulama mewajibkan setiap orang untuk memiliki kenderaan sendiri. Dengan kenderaan tersebut seorang muslim akan terhindar dari ‘ikhtilath’ dan lain-lain kemaksiatan . Sedangkan menghindari maksiat adalah wajib. Sementara di dalam kaedah ushul fiqh disebutkan, "Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu adalah wajib."



Akan tetapi tentunya hendaklah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan sampai kerana ingin mendapatkan kenderaan, dia bermati-matian mencari harta siang dan malam. Yang berlegar di dalam kepalanya adalah wang, wang dan wang. Sehingga dia lupa untuk berzikir kepada Allah, mempelajari agamanya, menghadiri majlis ilmu, shalat berjama'ah dan ketaatan lainnya.



Ingatlah selalu firman Allah subhanahu wa ta'ala,



فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ



"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian." (At-Taghaabun:16)



لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا



"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al- Baqarah ayat 286 )



Oleh karena itulah, keadaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan pada keridhaan-Nya seperti kedudukan orang 'alim yang telah Allah berikan hikmah dan ilmu kepadanya, yang mengajarkan ilmunya kepada manusia.



Maka di sana ada perbezaan antara orang yang rakus dan panjang angan-angan terhadap dunia dan berpaling dari akhirat dengan orang yang Allah berikan kekayaan yang digunakannya untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat dan dia infakkan di jalan Allah.



رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ



"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Al-Baqarah:201)



Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya serta memperbaiki urusan-urusan kita. Aamiin. Wallaahu A'lam.





(Maraaji': Syarh Riyaadhish Shaalihiin 2/186-189, Maktabah Ash-Shafaa; dan Bahjatun Naazhiriin 1/528, Daar Ibnil Jauziy

No comments:

Post a Comment